Cara Mengatasi Error "Your Connection Is Not Private NET::ER_CERT_DATE_INVALID" Google Chrome
Browser 3/25/2015Beberapa waktu lalu, laptop gue rusak dan harus diservis dalam waktu yang cukup lama. Setelah kembali ke pangkuan, gue pun langsung ingin melepas rindu dengan dia dan berselancar kembali di internet. Tapi ada yang aneh, saat buka browser dan mencoba akses google, gue gak bisa. Gak cuma web google, tapi semua layanan google seperti gmail, blogger, dan youtube pun gak bisa dibuka. Ada pesan error dengan gambar gembok merah dan tulisan "Your Connection Is Not Private" yang tidak gue mengerti pada halamannya. Di bawahnya ada error code NET::ER_CERT_DATE_INVALID.
tanya kenapa? |
Tapi buka web lainnya seperti facebook dan twitter lancar jaya aja, cuma google dan anak-anaknya yang gak bisa diakses. Ternyata ini terjadi di semua browser, gak cuma di google chrome, tapi juga di Mozilla Firefox dan Internet Explorer, walau di Mozilla bisa dikasih pilihan untuk masukin web itu ke exception list yang akan mengabaikan pesan error itu dan akhirnya tetap bisa diakses. Tapi tetep aja repot karena setiap ke url yang gak bisa harus ngasih exception dulu.
Cari-cari solusinya di internet, eh ternyata sangat sederhana dan akhirnya semuanya kembali normal. Jadi, ternyata karena tanggal di komputer kita gak sesuai. Pas gue cek tanggal di pojok kanan bawah layar, eh iya tanggalnya ketinggalan beberapa hari. Dan yang harus dilakukan adalah tinggal benerin tanggalnya. Lalu tutup dan buka lagi browser dan coba akses google, taraa! sudah bisa diakses kembali seperti semula.
Nih biar jelas kasih step by step dah ya :
![]() |
klik jam di pojok kanan bawah |
akan muncul jendela ini, klik Change date and time |
pilih tanggal yang sesuai dengan saat ini. |
tutup dan buka lagi browser lalu akses google. Taraaa sudah bisa diakses! |
Kenapa error ini bisa terjadi? Karena tanggal yang kelambatan atau kecepetan, saat kita coba akses website, Google Chrome akan coba cek certificate dari web tersebut apakah up-to-date atau tidak. Nah saat tanggal kita gak sesuai, maka terjadilah SSL error, Google Chrome nya bingung menentukan website itu aman apa nggak dan akhirnya berkesimpulan kalo website itu gak aman dan gak bolehin kita akses. Kurang lebih gitu deh (CMIIW).
Kadang kalau tanggal kita salah, pesan error yang muncul juga bisa "Your clock is behind" atau "Your clock is ahead". Kalo yang mucul itu sih jelas ya.
Untuk penjelasan lengkapnya tentang error ini, sila baca di support google nya langsung di sini.
Jadi begitulah Cara Mengatasi Error "Your Connection Is Not Private NET::ER_CERT_DATE_INVALID" Di Google Chrome, semoga bisa membantu teman-teman yang menemukan masalah yang sama.
ENJOY YOUR DAY!
![]() |
Salah satu hasil obrolan pada kopdar #4mazingKK Februari lalu tentang tempat-tempat wisata di Malang yang layak dikunjungi adalah kesimpulan bahwa: gue jarang jalan-jalan. Hampir dua tahun di Malang, tempat-tempat yang udah gue kunjungi baru sedikit--setidaknya jika dibandingkan dengan temen-temen gue. Sebenernya sering diajakin ngebolang, naek motor kemana-mana, tapi sebagai extrovert yang introvert (?), kebanyakan gue gak ikut karena berbagai pertimbangan. Padahal kata Ridwan Kamil dalam bukunya, Mengubah Dunia Bareng-Bareng, travelling adalah investasi, apalagi bagi arsitek. Travelling sangat dibutuhkan untuk mendapat inspirasi-inspirasi baru untuk desain. Hal ini juga diamini oleh dosen salah satu mata kuliah, yang bercerita tentang masa-masa kuliahnya dulu yang demen keluyuran dan jalan-jalan, selain untuk melepas penat karena tugas yang berat, sekaligus juga untuk mencari inspirasi desain. Maka dari itu, saat temen-temen Kancut Keblenger Malang bersepakat akan jalan-jalan ke Pantai Clungup di Malang Selatan pada hari Sabtu 21 Maret 2015 kemaren, gue gak mau ketinggalan.
Kita janjian pukul enam di depan Universitas Negeri Malang, walau tak tepat waktu, satu persatu yang mengkonfirmasi ikut, datang. Empat, lima, enam, tujuh orang sudah berkumpul, tinggallah satu lagi yang belum datang: Mas Rian. Kita tungguin dia, dan jam delapan baru muncul. Iya, jam delapan! Gue lupa persisnya jam berapa dia datang, yang jelas kami tidak sempat mengecek berapa jam tepatnya keterlambatannya karena bergegas berangkat ke tempat sarapan. Turns out tempat sarapannya deket kos gue, dan Mas Rian nitip motor juga di kos gue, yang berarti setelah setengah jam berjalan kaki dari kosan ke tempat janjian, gue kembali lagi ke kosan. Tapi gapapa, sekalian ngambil baju ganti, siapa tau di sana basah-basahan.
sarapan pecel dulu bro |
Kita pun berangkat, empat motor, menuju tujuan. Baru beberapa kilometer dari titik start, satu motor hilang dari rombongan: Mas Rian dan Mbak Fasta menghilang. Di dekat stasiun, kita menghubungi mereka dan ternyata Mas Rian yang menyetir--walau sudah diberitahu jalur yang dilewati sebelumnya--mengambil jalur lain yang berbeda dengan yang disepakati. Mungkin Mas Rian tidak mengerti konsep ilang, yaitu, yang dianggap ilang adalah yang minoritas. Berhubung dalam kasus ini adalah satu motor vs tiga motor, maka, walaupun jalur yang diambil Mas Rian dan Mbak Fasta lebih cepat sampai, lebih mulus, dan lebih bersahaja, tetap saja mereka yang dianggap hilang. Jadi, kamipun harus janjian di satu titik tertentu untuk bertemu dengan Mas Rian dan Mbak Fasta, belum termasuk waktu saling tunggu-menunggunya. Mas Rian tak diperbolehkan lagi jalan paling belakang.
Perjalanan yang ditempuh lumayan lama, sekitar tiga jam naik motor dari Kota Malang sampai ke lokasi pantai Clungup. Sebelum berangkat, gue sempat nanya ke beberapa temen tentang pantai Clungup, ternyata gak ada yang tau. Kesimpulannya belum banyak yang tau dan kemungkinan pantainya sepi, ini membuat gue makin bersemangat. Dari kami berdelapan pun, cuma Ashya yang pernah ke sana. Ternyata, pantai ini dekat Pantai Goa Cina (yang sudah banyak diketahui orang), dan setiap di perjalanan kita melihat banyak mobil travel dan orang-orang motoran, kita berharap mereka mau ke Goa Cina dan bukan ke Clungup. Ini mengingatkan gue sama pantai Sawarna, yang juga banyak orang gak tau, tapi pantai-pantai di dekatnya seperti Pulo Manuk, sangat ramai.
sound system di truk ini nyala sepanjang jalan dan nyetel lagu remix, menghibur pengendara di belakangnya. |
Medan yang ditempuh untuk mencapai Pantai Clungup pun mengingatkan gue kepada Pantai Sawarna. Untuk sampai ke pantai, kita harus melewati bukit dulu, maka tak heran kalau jalannya berliku-liku. Sesekali kami berhenti jika jarak antar motor sudah terlalu jauh, apalagi Bahrul yang bonceng gue, bawa motornya kenceng dan jago nyalip-nyalip di jalanan berliku, jadi kita sering berhenti untuk menunggu yang lain sambil melemaskan dengkul yang kopong pegal dan pantat yang mulai tepos.
Akhirnya kami sampai di daerah kampung dekat Pantai Clungup, pada suatu titik, jalan sudah semakin sempit dan berbatu sehingga kami menitipkan motor di sebuah tempat penitipan yang dijaga oleh ibu-ibu dan anjingnya. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki.
Sampailah kami pada sebuah posko yang merupakan pintu masuk ke kawasan Pantai Clungup. Ternyata, Clungup ini adalah kawasan konservasi bakau, ini juga terlihat dari banyaknya pohon bakau di sepanjang jalan yang kami lewati. Di posko ini, para pengunjung diwajibkan checklist barang bawaan, didata bawa makanan ringan berapa, plastik berapa, minuman botol berapa, lalu dicatat, agar nanti ketika pulang, jumlah sampah yang harus dibawa sama dan tidak boleh ada yang ditinggal di lokasi (walau kami tidak bertanya jika membawa sampah lebih apa mendapat piring cantik).
Perjalanan kami lanjutkan dengan tetap berjalan kaki, sampai terdengar deru ombak, gue merasa makin bersemangat, ketika tercium bau air laut, gue baru ingat bahwa sudah lama sekali tidak merasakan sensasi ini, dan ketika melihat birunya laut dan putihnya pasir Pantai Clungup, kerinduan akan pesisir pun terbayarkan sudah, betapa mungkin sudah dua tahun gue gak ke pantai, dan hari itu terbayarkan dengan pantai yang sangat indah. Perjalanan dari tempat penitipan motor kami sampai di bibir pantai kurang lebih dua puluh menitan. Manajemen yang baik dari pengelola membuahkan hasil yang baik: pantai yang sangat bersih.
![]() |
foto oleh Arul |
Tak ada yang bisa menahan kesenangan saat itu, semuanya berlarian di pasir dan berteriak melihat birunya laut dan pecahan ombak di bukit karang. Kami semua pun akhirnya tak bisa lagi menahan hasrat untuk merasakan langsung air lautnya: untuk berenang, walau tak direncanakan dan ada yang tidak membawa baju ganti. Memang tak terlalu sepi, tapi juga jauh dari kata ramai, lebih dari cukup ruang untuk kami lari-larian dan berenang, cerahnya langit di musim hujan seperti ini pun mengamini. Terimakasih untuk penangkalan hujannya, Mas Hadyan. #eh.
but first... |
Kami berenang, bermain pasir, menimbun Arul, membully Mas Rian, pokoknya bersenang-senang. Gue pun melupakan secara penuh handphone dan kamera yang gue taro di tas, mencoba menikmati secara maksimal momen itu tanpa disibukkan dengan update status atau berfoto.
![]() |
foto oleh Arul |
![]() |
foto oleh Arul |
![]() |
foto oleh Arul |
![]() |
foto oleh Arul |
Sampai air laut mulai surut, kami sudah lelah dan puas bermain, kaki Mas Dhimas berdarah kena karang, dan Mbak Fasta yang galau, kami pun pulang. Kembali berjalan kaki menuju tempat penitipan motor tadi. Di sepanjang jalan itupula kami nyerocos tentang apa saja, mulai dari kenangan semasa SMA sampai google adsense (akhirnya ngomongin blog!).
Perjalanan pulang dilalui dengan ngantuk, khawatir kecelakaan, Bahrul pun memutuskan berhenti dulu di alfamart untuk beli kopi, sambil nunggu yang lain. Kami berencana makan bakso dulu sebelum pulang, namun nasib berkata lain. Spell nya Mas Hadyan untuk menangkal hujan nampaknya sudah habis, langitpun berubah mendung disusul hujan deras dan angin yang kencang. Kami pun berteduh di pom bensin terdekat, makan cilok bakar sambil menunggu hujan reda. Ketika hujan reda, karena baru pada makan cilok, hasrat untuk makan bakso pun hilang, dan semua sepakat udah pada capek, kami pun pulang ke habitat.
![]() |
kahujanan (foto oleh Arul) |
diupload biar bisa dihapus #eh |
Ini pertama kalinya gue ke pantai selama di Malang, dan Pantai Clungup ini recomended banget deh bagi kamu yang pengen pergi ke pantai di sekitaran Malang. Semoga kapan-kapan bisa jalan-jalan lagi bersama para kawancut jomblo ini.
ENJOY YOUR DAY!
Apa kamu pernah mau bikin postingan dari suatu event, tapi gak enak karena sebelum event itu ada event lain yang belum diposting, dan akan terasa melangkahi? Postingan inilah contohnya. Kemaren gue sama temen-temen komunitas Kancut Keblenger regional Malang abis jalan-jalan ke pantai, dan pulang dari sana pengen langsung nulis postingan tentang itu, tapi karena tiga minggu sebelumnya kita kopdar dan gue belum bikin postingannya, jadi berasa ada hutang, jadi sekarang mau lunasin dulu hutangnya ya, abis itu baru nulis tentang jalan-jalan kemaren heuheu.
Pada tanggal 28 Februari 2015, Kancut Keblenger mengadakan kopdar serempak bertajuk #4mazingKK di seluruh Indonesia dalam rangka ulangtahunnya yang ke 4. Kopdar serempak ini maksudnya kopdar barengan di berbagai tempat di seluruh Indonesia, soalnya member KK udah sampe ribuan member yang tersebar di seluruh kota
Karena lumayan sering ikut kopdar-kopdar KK di Jabodetabek waktu belum pindah ke Malang, gue pun ditunjuk Kak Vina buat jadi Jendral KK Malang, semacam koordinator untuk regional Kota Malang. Menghadapi kopdar serempak 28 Februari, tentu saja tugasnya termasuk mengkoordinir para kawancut yang berada di Malang untuk mempersiapkan kopdar. KK Malang sendiri sebenarnya sudah pernah kopdar sebelumnya, yang dihadiri oleh lima orang kawancut, kebetulan waktu itu gue gak bisa ikut karena lagi di Tangerang, jadi bisa dibilang gue belum kenal sama sekali dengan para kawancut Malang ini dan belum pernah ketemu. Maka gue harus mulai dari awal, melihat database anggota KK yang berdomisili di Malang, menghubungi mereka satu-satu dan ngajakin kopdar.
Singkat cerita, setelah mendiskusikan lokasi kopdar dan tektekbengeknya, kita sepakat mengadakan kopdar di Alun-Alun Balai Kota Malang, alias Alun-Alun Tugu jam 10 pagi. Alun-alun ini dipilih karena aksesnya yang mudah buat yang gak bawa kendaraan dan angkoters seperti gue heuheu. Dengan dresscode merah, jam 10 pas gue turun dari angkot di alun-alun. Pagi itu alun-alun sepi, hanya segelintir mas-mas terduga maba yang sedang foto-foto dengan background tugu. Gue pun menunggu di spot yang ditentukan: yang menghadap balai kota. Karena cukup panas, gue duduk di bawah pohon yang sebenarnya tajuknya juga kurang menaungi itu.
Gue pun baru inget problem kopdar pertama gini: kita belum tau siapa-siapa, jadi walaupun mereka udah dateng, kita gak tau mereka dan mereka gak tau kita. Memang, sesekali terlihat orang yang jalan-jalan sendiri muter-muterin alun-alun, dan kalau pake baju merah (atau analogusnya), gue bertanya-tanya "jangan-jangan itu anak KK". Yang komunikasi lancar waktu itu adalah Dhimas, yang mengatakan dia sudah datang dan lagi berteduh di depan sekolah sambil melihat dedek-dedek gemes, Dhimas pun bergerak ke alun-alun tempat gue menunggu dan kita pun bertemu #tsah. Bersamanya, gue pun nyamperin segerombolan cewek-cewek yang pake baju merah yang kemungkinan besar anak KK juga--dan ternyata benar.
Ketika kita sudah membentuk gerombolan (bukan sendiri-sendiri kayak tadi lagi) maka akan lebih mudah buat yang baru datang untuk menemukan. Kita pun cari tempat duduk yang adem di bawah pohon yang lebih rindang daripada tempat gue nunggu tadi, dan satu persatu kawancut pun berdatangan.
Kopdar pun dimulai dengan perkenalan, setelah perkenalan, bingung. Ya, problem kopdar pertama lainnya adalah, karena belum kenal, maka masih pada malu-malu dan diem-dieman. Obrolan belum secara alami mengalir dan sempat beberapa kali tejadi silent moment. Gue pun mencoba buka bahasan dengan membawa buku yang berpengaruh untuk gue dalam mengenal dunia blog dan media sosial yakni Why Did The Chicken Browse Social Media? karya Diki Andeas dan Rezeki Nomplok Dari Kontes Blog karya Harris Maulana. Buku-buku itu digilir kalau ada yang tertarik untuk membacanya, namun gak begitu lama, hening kembali terjadi. Ini wajar. Dan pada akhirnya memang membiarkan percakapan terjadi dengan sendirinya memang cara terbaik, dimulai dari ngobrolin dan nanya-nanya ke yang duduk di sebelahnya, yang kampusnya sama ngomongin kampus, yang jurusannya sama ngomongin jurusan, dan sebagainya, untuk mengakrabkan diri terlebih dahulu.
Satu lagi yang cukup bisa memecah suasana hening adalah hadirnya cemilan, terbukti ketika Mbak Ria dan Ashya datang membawa cemilan, suasana mulai rame (eh apa gue doang yang rame karena makan terus ya? hahaha).
Kalau satu obrolan sudah habis dan kembali ke sesi hening, kita bertanya "ngapain lagi ya?", lalu ada pertanyaan "emangnya kalo kopdar biasanya ngapain?" yang mana gue juga bertanya sendiri ke diri gue "iya yah, kemaren kalo kopdar ngapain aja sih?". Dan gue berkesimpulan, biasanya gue dateng kopdar bukan buat acaranya apa dan apa yang akan kita lakukan di sana, tapi emang cuma pengen ketemu sama orang-orang yang selama ini kita kenal di dunia maya. Ya, cuma pengen ketemuan, menurut gue, di situlah esensi kopdar. Mungkin alasan kita bingung mau ngapain segala macem karena kita kurang kenal di dunia maya dan jarang berkomunikasi? Atau memang karena masih canggung aja pertama kali ketemu orang baru. Apapun itu, untunglah kopdar kali ini memiliki beberapa agenda yang seru-seru, seperti tukar kado dan bikin video.
Karena mau hujan--padahal tadinya panas--kita pun pindah ke Taman Bentoel Trunojoyo bagian Selatan. Benar saja, baru aja kita pindah dan sampe di tamannya, hujan langsung deras banget disertai angin. Kita pun sampe ndusel-ndusel berteduh biar gak kehujanan. Di saat hujan ini kita isi dengan ngobrol-ngobrol bebas, sampe muncul singkatan-singkatan KK yang baru seperti "Kopdar Kehujanan", "Kebelet Kencing", dan "Kolor Kebasahan".
Habis hujan, terbitlah lapar. Kita pun bergerak lagi ke warung bakso terdekat untuk mendapatkan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kelaparan). Tapi begitu sampe di depan warung baksonya, ternyata jalannya keblock oleh banjir, kita gak bisa masuk. Mau masuk warung bakso doang jadi berasa kancil yang mau menyebrangi sungai buaya. Setelah perahu karet tim SAR dan helikopter penyelamat tak kunjung datang untuk membawa kami kesebrang, mas-mas bakso nya menaruh kursi sebagai jembatan kami menyebrang. Maka muncul singkatan KK yang lain: "Kuliner Kebanjiran". Perjuangan makan bakso tak pernah sedramatis ini. Setelah makan bakso, kita pun kembali ke taman untuk membuat video dan tukeran kado. Setelah itu pulang deh ke habitat masing-masing.
![]() |
perjuangan menggapai bakso. (foto by: Dewi) |
Seru rasanya bisa merasakan kembali kopdar pertama kali dengan orang-orang baru yang belum pernah kenal. Merasakan sensasi dari canggung ngomong sampai lama-lama akrab sampe bisa becanda-becanda dan ketawa-ketiwi bareng. Dan kalau dipikir-pikir itu semua terjadi hanya karena kita adalah sama-sama blogger, keren banget.
ENJOY YOUR DAY!
Dari dua pengalaman gue dengan si tante menor dan bapak melas yang sudah gue ceritakan, pertanyaan satu milyarnya adalah : Lebih baik mana
A. Tetap pertahankan kebaikan hati dan selalu siap membantu orang walau kita tahu bahwa banyak orang jahat di luar sana yang siap menipu dan memanfaatkan kita demi tidak mengkhianati kemungkinan bahwa masih ada orang yang minta tolong beneran,
atau
B. Meningkatkan kehati-hatian kita, kritis, dan curiga kepada setiap orang yang minta tolong dan tidak mudah percaya dengan orang?
Memilih A adalah menggantungkan semuanya kepada kemungkinan bahwa orang yang minta tolong siapa tahu beneran butuh bantuan, jadi tetep harus berpikiran positif. Sebenernya dua kasus yakni tante menor dan bapak melas juga kalo mau berpikiran positif, ya bisa aja mereka beneran butuh bantuan. Terutama yang bapak melas. Tapi berpikiran positif kan bukan berarti kita jadi orang polos dan gak curiga sama sekali. Gue pikir, selama otak kita jalan, akan selalu timbul perasaan curiga kepada orang asing yang gelagatnya aneh yang minta tolong ke kita --terutama kalo lu pernah ketipu sebelumnya, atau punya pengalaman buruk dengan orang asing. Itulah yang ada di pikiran gue waktu si tante menor minta uang lebih, dan si bapak melas menjelaskan jalan dengan cara aneh. Dan karena rasa curiga tapi tetep kita jalanin itulah menjadi dilema. Kalo kita ketipu karena kita emang polos mah gak bakal nyesek, yang nyesek itu kalo kita udah curiga, tapi tetep gak berdaya buat nolak. Rasa gak berdaya dan merasa diri goblok karena bisa ditipu itulah yang bikin nyesek. Memilih A memang bisa menghidari dari rasa ini, dengan mempercayai bahwa uang yang kita keluarkan akan bermanfaat, tapi ya artinya kita "rugi". Pikiran tentang rugi pun sebenernya bisa dikesampingkan. Orang yang berprasangka baik, walau sering ditipu, akan selalu ada kebaikan yang menggantikian kerugiannya kan. Lagian kalau kita ikhlas --walau yang kita berikan tidak tepat sasaran sekalipun-- tetap akan dapat ganjaran.
Memilih B berarti mencoba berhati-hati agar gak ketipu lagi. Namun akan sedikit membuang kepercayaan kepada orang. Gak akan ada lagi gerak cepat membantu, semua harus dikritisi dulu biar gak ketipu. Gak ada lagi peka dan gak ada lagi empati. Memilih B dengan belajar menolak dan selalu kritis juga berarti belajar dari kesalahan.
Menurut temen-temen mendingan yang mana?
Selain dilema di atas, ada juga satu yang mengganggue gue. Seperti sempet disinggung sebelumnya, ditipu punya efek samping bikin kita kesel sama diri sendiri, "kok goblok banget sih bisa ketipu?" dan sebagainya. Mungkin ada yang pernah baca tulisan gue yang ini (Jualan atau Nodong, sih?) ? Di situ juga kan gue cerita tentang ketidak berdayaan gue ditipu untuk membeli sebuah produk krim abal-abal. Gue pun mulai bertanya, kenapa gue? kenapa gak ada perkembangan dari dulu sampe sekarang gini-gini terus? Apakah tampang gue emang tampang yang gampang ditipu dan keliatan polos dan bego sehingga selalu dijadikan sasaran?
Mungkin iya, tapi ini juga punya arti lain. Seperti perkataan salah satu karakter di manga school life favorit gue, A Bad Boy Drinks Tea!
Jadi, mungkin gue orang baik (sial padahal gue mau jadi penjahat yang menguasai dunia). Dan untuk kalian orang baik lainnya, berhati-hatilah.
Mungkin iya, tapi ini juga punya arti lain. Seperti perkataan salah satu karakter di manga school life favorit gue, A Bad Boy Drinks Tea!
"Orang baik itu memancarkan aura, makanya sering ditanyai jalan atau diminta tolong macam-macam." - J
Jadi, mungkin gue orang baik (sial padahal gue mau jadi penjahat yang menguasai dunia). Dan untuk kalian orang baik lainnya, berhati-hatilah.
ENJOY YOUR DAY!
Hanya selang beberapa hari dari kasus tante menor yang sudah gue ceritakan di Part 1, gue kembali terlibat kasus serupa tapi tak sama, kali ini malem-malem. Malam itu, jadwal gue padat hasemeleh, abis ngirim barang dari JNE, gue berencana ke tempat temen. Pas lagi jalan, eh ada bapak-bapak nanya jalan, dia nanya jalan ke alun-alun Malang kemana, yaudah gue tunjukin arahnya. Dia bilang masih jauh nggak kalo jalan kaki, terus gue bilang kalo jalan kaki mah jauh, naek angkot aja. Lalu dia mulai cerita kalau dia udah jalan dari pagi. Tanpa diminta, bapak itupun curhat kalau dia gak tau Kota Malang dan sesungguhnya dia adalah orang Kediri, ke Malang di ajak temen katanya buat nyari kerja, eh pas bangun tidur temennya udah gak ada. Dia ditinggal. Akhirnya dia jalan mau ke alun-alun, katanya duitnya diambil semua sama temennya dan yang tersisa cuma pakaian yang sekarang dia kenakan.
Ceritanya sangat menyedihkan memang, apalagi si bapak ceritanya dengan tampang melas-kecapekan gitu. Gue pun cuma menanggapi "ya ampun..". Melihat gue (pura-pura) belum peka, si bapak kembali mengulangi kalimatnya yang "udah ini mah saya gak punya apa-apa lagi cuma pakaian di badan doang, uang semuanya nggak ada". Setelah dewan pikiran gue di otak seperti yang telrihat di film Inside-Out selesai rapat dengan kesimpulan : Bantuin si bapak, maka gue berniat mencarikan dia angkot buat ke alun-alun. Terus gue sebrangin deh dan nunggu angkot. Tadinya gue mau kasih duit pas dia udah naik di angkot aja, tapi entah kenapa karena angkotnya gak dateng-dateng, gue pun merogoh kantong dan ketarik uang 20 ribu, jadi gue kasih aja deh langsung buat ongkos, sementara angkotnya belum keliatan juga, mungkin karena sudah malam.
Sampai sini, gue memang masih menganggap si bapak bener-bener butuh bantuan, tapi belajar dari pengalaman, takutnya kayak kasus si tante menor lagi, gue udah inget-inget, kalo katanya ilang lah, gak bisa pulang, butuh ongkos, anterin aja sampe terminal, sampe naek bus. Jadi kalo dia nipu kan lumayan dia jadi repot, tapi kalo beneran ya jadi kebantu. Nah dalam kasus si bapak ini, gue juga bersikeras pengen kayak gitu, sayangnya angkot gak juga dateng. Dan setelah menerima uang dari gue itu, si bapak malah pengen cabut gitu aja, dia bilang
"yaudah deh saya pake duit ini buat balik ke Kediri se sampe-sampenya sampe mana, buat naek bus atau apa kek"
"loh, kan bapak gak tau terminalnya ada dimana? alun-alun aja gak tau kan"
"udah tau kok tadi udah nanya orang"
"emang dimana?"
dengan sedikit terbata dia menjelaskan
"dari sini luruuuus aja, ntar ketemu sungai terus belok kiri katanya di situ"
sungguh cara yang aneh untuk mendeskripsikan lokasi terminal di sebuah kota, malah lebih mirip cara Peta menjelaskan lokasi Bukit Blueberry kepada Dora. Sungai? Sungai mana maksudnya? Sungai Buaya? Sungai Berangin? Dari caranya menjelaskan yang seperti ngarang itu dan gelagatnya yang mau langsung cabut begitu nerima uang, gue mulai curiga.
"yaudah saya pake ya duit ini sesampenya lah sampe mana ntar sisanya tinggal jalan kaki gapapa" katanya mengulang kalimat tadi. Mungkin kode minta ditambah? Pikiran curiga gue sudah mengambil alih.
"tunggu pak, naek angkot aja, saya anterin" kata gue berusaha kukuh seraya menengadah ke ujung jalan. Tapi gak ada juga angkot yang lewat, membuat pertahanan gue hancur ketika di-attack lagi oleh si bapak. Masih dengan kalimat yang diulang.
"yaudah deh, hati-hati aja pak" kata gue pasrah. Lalu dia mendoakan dan berterimakasih, lalu jalan pergi. Gue masih ngeliatin dia jalan, bukan dengan rasa khawatir tapi dengan mengawasi. Sebenernya mungkin terlalu dini menyimpulkan bahwa si bapak ini nipu, sebenernya masih ada kemungkinan bahwa si bapak melas ini beneran butuh pertolongan, dan ceritanya benar, dan seterusnya. Masih ada ruang untuk yang percaya. Namun karena gue tidak bisa menahan pikiran curiga, gue pikir, mungkin gue sudah terlalu jauh dari kata "ikhlas" malam itu, jadi sekalian aja gue bagi ceritanya di sini. Kalo si bapak melas beneran nipu, maka gue akui aktingnya sangat bagus, mainnya lebih rapih daripada si tante menor. Dan sampai punggung si bapak hilang di antara lampu kendaraan malam, tidak ada juga kru reality show "TOLOOOONG!" yang menghampiri gue, kemungkinan lainnya selain si bapak beneran minta tolong sama nipu.
(Lanjut Part 3)
ENJOY YOUR DAY
Hal yang membuat hati manusia keras bukanlah film-film atau video game sadis, melainkan penipu yang pura-pura minta tolong. Modus penipuan memang sangat banyak dan bervariasi, tapi menurut gue yang paling buruk adalah penipuan dengan modus minta tolong dan mengharapkan belas kasihan si korban, ini akan membuat dilema bekecamuk pada si korban dan bisa saja membuat hatinya akan keras. Izinkan gue berbagi pengalaman berada dalam situasi penipuan dengan modus ini. Iya, gue pernah kena, dua kali, silahkan simak ceritanya dan berhati-hatilah kalau ketemu yang kayak gitu juga.
Yang pertama, waktu itu gue mau beli makan siang, karena uang gue abis, gue mau ke ATM dulu. Waktu di jalan mau ke ATM, di depan gue ada tante-tante dengan make-up tebal, pakaian gaul, dan menenteng tas ala tante-tante, ternyata si tante menghentikan gue. Dia minta uang ke gue, katanya uangnya ilang, dia mau pulang ke Surabaya, katanya minta 10 ribu aja. Sebenernya tampangnya gak meyakinkan banget, apalagi dari pakaiannya, tapi waktu itu gue mikir, 10 ribu doang dan gue lagi buru-buru juga, udah laper pengen buru-buru makan sambil ada sedikit memikirkan kemungkinan kalau dia bener-bener butuh bantuan. Gue kasih dah duit 10 ribu 10 ribu nya di kantong, eh pas dikasih, dia bilang
"loh, dua puluh.."
"loh, katanya sepuluh tadi?"
"dua puluh" pasang tampang bego, seakan tadi dia gak bilang sepuluh, ngeselin.
"udah gak ada lagi duit saya, ini aja mau ke ATM" niat gue buat memberi alasan kalo gue gak bisa ngasih lebih, tapi malah berdampak sebaliknya.Goblok banget gue, salah ngomong.
"oh yaudah gapapa ambil dulu aja tante tunggu sini gapapa". Dia pun langsung duduk di depan toko bakery itu.
Yang perlu kalian ketahui, mereka akan menyisipkan kata-kata manis untuk memperlancar aksinya dan muka seramah mungkin, dan silahkan katain gue goblok sebebasnya, tapi nolak ternyata tidak semudah itu. Gue pun nurut ke ATM. Begini, dalam tahap ini tentu saja gue udah gak percaya sama sekali kalau dia butuh bantuan, tapi entah kenapa gue tetep gak bisa nolak permintaannya. Tentu saja bukan karena dia pake kata-kata manis juga, najis amat, tapi campur aduk antara perasaan pengen cepet-cepet selesai sama 'yaudahlah ya'. Abis ngambil, karna nominalnya 50 ribu, gue juga gak mau rugi-rugi amat, gue jajanin dulu biar bisa ngasih 10 ribuan. Pas udah balik ke tempat tuh tante nunggu, eh dia lagi makan kue kering, dengan plastik toko bakery tempat dia nunggu itu. Ternyata dia beli roti dulu, katanya gak punya duit lu, garpu somay.
Gue pun langsung aja kasih 10 ribu yang udah gue siapkan di tangan, pas gue kasih, eh --masih dengan tampang sok goblok-- dia bilang
"loh, 20 ribu"
"kan tadi 10 ribunya udaaah"
"10 ribu lagi"
Asli ngeselin pol, rasanya pengen gue fatality-in di tempat dengan gaya Sawblade nya Kung Lao. Tapi apa daya, gue yang lemah ini malah nurut aja, campur kesel dan perasaan pengen cepetan cabut aja. Gue berniat ngeluarin 10 ribuan lagi dari kantong, tapi... yang ketarik malah uang 50 ribuan! Melihat wajah I Gusti Ngurah Rai keluar dari kantong gue, si tante menor maen sabet aja sambil bilang "yaudah yang ini aja". Gue yang berusaha mencegah tapi --najisly-- tak berdaya pun cuma bisa bilang "yah jangan dong tante", tapi dasarnya emang anak muda dan tante-tante tentu lebih pengalaman tante-tante, dia langsung cekatan menanggapinya "udah ini aja, nih yang tadi saya balikin "dia mengeluarkan 10 ribu pertama yang gue kasih tadi, "sama ini buat kamu aja", dia memberikan plastik berisi roti-roti yang tadi dia beli.
Dengan pasrah gue iyain aja, menelan kekesalan berdasarkan itung-itungan cepat-seadanya ngira-ngira harga roti-roti itu dan menghitung kerugian gue berapa. Melihat ekspresi kekalahan gue, si tante langsung klaim kemenangan dengan mengucapkan terimakasih yang dilebih-lebihkan dan mendoakan macem-macem. Sayang, doa yang paling gue butuhkan --doa agar tidak gampang ditipu orang-- bukan salah satunya.
Entah dengan motivasi apa, gue kembali menanyai si tante tentang ceritanya yang mau pulang ke Surabaya, lalu gue sebrangin dia karna angkot yang menuju terminal naiknya dari sebrang. Seenggaknya kalo dia bohong, bisa sedikit ngerepotin dia karna harus nyebrang balik deh, itulah pikiran keputusasaan terakhir gue sebelum melihat dia lama-lama menghilang di kejauhan.
(Cerita tentang penipuan kedua yang gue alami akan dilanjut di part 2).
ENJOY YOUR DAY!
Inget zaman awal-awal bikin facebook dan ada masa dimana kita banyak-banyakan punya temen di facebook sama temen-temen dan dipamerin? “gue dong temennya udah lima ratus”, “gue dong udah seribuuu”, “gue dong udah dua ribuuu”, “gue dong udah sejutaaa”, “gue semilyaaar”, “gue tak terhingga”. Gue pernah ngalamin. Pada saat itu, jumlah teman seakan menjadi pertaruhan harga diri dan kita pun giat berlomba-lomba untuk menambahnya, walaupun dengan cara ngeadd orang-orang yang kita gak kenal, entah dia anak sekolah lain, tukang jamu keliling RW sebelah, atau OP warnet langganan, kita gak peduli.
Awalnya emang enak sih, temen keliatan banyak, news feed jadi rame, suka dichat tiba-tiba “lagi apa?”, “ol dimana?”, “like statusku dong”, dan yang terpenting, bisa maen game facebook dengan banyak kemungkinan bonus karena banyak temen, tapi seiring bertambahnya usia dan bulu dada, kok malu juga ya. Ketika melihat banyak status-status alay dan labil berkeliaran di news feed dengan nama samaran yang lebih nyentrik dari rapper manapun, yang kita gak kenal itu siapa. Maka beberapa orang banyak yang memilih mulai me-remove teman-teman facebook yang namanya gak jelas, yang gak dikenal, atau yang anonim, mencoba mengubur sisa-sisa peninggalam zaman jahiliyah mereka, termasuk gue. Gue juga kalo nemu yang namanya masih susah dieja untuk standar kurikulum TK Indonesia manapun, langsung gue remove kok.
Namun belakang ini mikir lagi, kayaknya punya banyak temen di facebook itu banyak manfaatnya juga, walaupun itu orang tak dikenal, atau alay sekalipun. Ya, kalau dulu gue cuma sadar manfaatnya buat main game facebook jadi banyak yang bisa diinvite dan dapet bonus, sekarang mulai kepikiran yang lain lagi. Misalnya, kalo yang suka narsis dan diakui sebagai orang yang oh-so-populer, banyak temen punya kemungkinan lebih besar buat dapet 'like' yang banyak, atau buat blogger, punya temen banyak juga punya kemungkinan kalo share link blog di facebook bisa dibaca lebih banyak orang. Dan ternyata punya banyak temen masih punya manfaat lainnya. Gak percaya? Nih, kemaren gue liat di kaskus, ada challenge yang mengandalkan koneksi pertemanan juga. Tapi bukan pabanyak-banyak like atau apa, ini lebih mudah lagi, yakni cuma invite teman buat connect facebooknya atau like fanpage. Namanya BCAFriends, website invitasi challenge yang menantang pengguna facebook mengundang teman-temannya untuk terkoneksi. Semakin banyak temen yang terkoneksi, makin besar peluang untuk menang. Hadiahnya juga gak tanggung-tanggung, ada grand prize liburan ke Bali, Singapura, dan Hongkong. Belum lagi ada hadiah mingguan yakni jutaan rupiah voucher Blibli. Yaudah deh gue nyoba-nyoba ikut, lagian cuma invite temen doang heuheu.
Caranya tinggal ke bcafriends.com , nanti bakal diminta like fanpage BCA, terus udah deh kita masuk ke aplikasinya. Kalo udah masuk aplikasinya, tampilannya gini nih.
![]() |
like fanpage nya dulu gan |
Di sini kita bisa liat, mana aja temen kita yang udah like fanpage BCA, dan bisa langsung invite juga temen yang belum like dengan cara klik logo orang biru di tengah itu.
![]() |
klik kotak biru yang dibawah itu buat invite |
![]() |
invite deh! |
Jadi, punya banyak temen walau ada yang gak dikenal ternyata ada manfaatnya juga. Bahkan banyak temen-temen gue yang awalnya asal add orang dari luar negeri dan akhirnya jadi teman akrab di facebook. Tapi kalo untuk gue sendiri sih, gue lebih memilih tetep meremove yang kira-kira statusnya gak bikin gue tertarik (yang alay yang seakan kehidupannya paling menyedihkan dsb), dan tertarik juga berteman di facebook sama yang gak kenal, asal punya kesamaan, misalnya, hobinya sama, atau suka share hal-hal yang bermanfaat seperti pemikiran, analisa, dan tips-tips berguna.
Buat nemuin orang kayak gitu, gue biasanya masuk-masuk ke grup, misalnya grup penggemar salah satu TV Series yang gue suka, lalu di grup ini liat yang mana kira-kira orang yang menarik, lalu diadd. Nantinya di news feed juga gak akan “nyampah” karena topik yang dibahas adalah topik yang kita sama-sama suka. Ada yang suka pake cara kayak begitu juga kah? Ngomong-ngomong pertemanan di media sosial, udah baca postingan gue tentang lagu Placebo – Too Many Friends yang menyoroti hal yang sama?
Pilihan untuk berteman di media sosial emang tergantung masing-masing, tapi kalo bisa sih pertemanan yang kita jalin itu bermanfaat, ya minimal buat refreshing lah, jangan sampe malah bikin stres dan gedek sendiri setiap buka media sosial kita. Yang tadinya mau refreshing, malah jadi bad mood gak karu-karuan. Heuheuheu.
ENJOY YOUR DAY!